Belum terdaftar?
Home Artikel Perikanan dan Kelautan Perikanan yang berkelanjutan : sebuah opini
Perikanan yang berkelanjutan : sebuah opini
Written by Afriana Kusdinar   
Monday, 05 October 2009 02:14
"Aquaculture experts from the National Fisheries Research and Development Institute (DFRDI) have said that local bluefin tuna farms will soon be ready to start selling fish. Tuna farming began in South Korea in 2007 with just eleven fish. There are now over 300 bluefin tuna fish being raised in net cages. The experts said that South Korea should be able to make its first commercial sales by 2015. The President of the Insung Marine Product Company, Hong Seok-nam said that aquaculture was a viable alternative to fishing. With South Korea’s proximity to Japan, there is a lot potential. Japan is the largest consumer market in the world for bluefin tuna. The average Japanese person consumes 3,720 grams of bluefin tuna per year while the average South Korean ate just 57 grams of tuna, Mr Hong said."

Artikel  yang pendek diatas saya terima tadi pagi di inbox saya dari sebuah newsletter yang secara berkala saya terima setiap minggunya, sebuah artikel pendek mencuri perhatian mata saya dengan judul ‘Nearly ready for sale of farmed bluefin tuna ’. Sepengetahuan saya di Indonesia sudah dibangun hatchery untuk tuna sirip kuning (Thunnus albacores ), tepatnya di BBRPBL (Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut) Gondol  Bali. Melalui teknologi  domestikasi  ikan tuna sirip kuning, para peneliti dari BRKP mencoba untuk dapat mengontrol keberadaan populasi ikan tuna yang semakin berkurang dihabitat aslinya dewasa ini.

Pada kesempatan kali ini, saya mencoba untuk melihat dari sisi sustainable fisheries-nya daripada aspek budidayanya. Beberapa Jurnal, laporan ilmiah dan artikel-artikel menyebutkan bahwa dari tahun ke tahun terjadi penurunan produksi perikanan hasil penangkapan di laut (capture fisheries). Banyak hal yang melatar belakangi fenomena ini, diantaranya unmanaged fisheries, destructive fishing, IUU fishing, dan cara-cara yang merugikan lainnya. Entah ini karena prilaku konsumen yang yang beralih dari red meat ke white meat yang terjadi di hampir semua negara maju dan berkembang sehingga perusahaan-perusahaan perikanan penangkapan berlomba-lomba mengejar target produksi atau karena kurangnya pemahaman akan pola penangkapan ikan yang bertanggung jawab (responsible fisheries). Apakah perusahaan perikanan  dan penentu kebijakan di daerah yang memegang peranan penting dalam menjalankan agenda otonomi daerah dimotori oleh komponen yang paham tentang lingkungan, tentang kehidupan ikan (fishes life-circle), tentang bagaimana memanfaatkan sumberdaya alam secara bijaksana? Namun saya yakin pemerintah sudah banyak melakukan upaya yang terbaik buat kesejahteraan masyarakatnya. Dengan beragam program unggulan yang telah diaplikasikan di masyarakat, terbukti membawa perekonomian masyarakat khususnya wilayah pesisir  kearah yang lebih baik.

Disisi lain upaya pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan dapat memberikan dampak negatif bagi kelangsungan hidup suatu bangsa, betapa tidak keberadaan sumber daya alam yang melimpah sekalipun jika dimanfaatkan dengan cara yang tidak menghormati lingkungan dan tanpa batas akan membawa pada kondisi sumber daya alam yang mengkhawatirkan dan sulit untuk dipulihkan. Seperti kutipan sebuah buku karya Michael King,  “If fishing efforts is increased beyond that necessary to obtain the MSY, the adult stock may be reduced to the extent that insufficient young fish are produced to maintain the stock. In an economic sense, excess fishing effort occurs when the revenue generated by a marginal increase in effort is less than the cost of that increase. If demand remains high in relation to fishing costs in an unmanaged fishery, it is almost inevitable that the fishing effort will be continue to increase and the stock will become overexploited in both an economic and a biological sense”.  Kemudian  sebuah buku yang menarik (belum lengkap saya baca), The Empty Ocean yang ditulis Richard Ellis, buku tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan laut tidak dihormati dan hal ini membebani proses perbaikan (recovery).  Lalu satu buku lagi karya Charles Clover yang popular saat ini bahkan merupakan ulasan dari sebuah film layar lebar dokumenter  yang dikemas secara ilmiah tentang kondisi perikanan tangkap yang hampir collaps, The end of the Line . Film ini menceritakan tentang bagaimana penangkapan ikan yang modern mengakibatkan rusaknya ekosistem laut.  

Dari beberapa referensi tersebut tergambar bagaimana memprihatinkannya keadaan perikanan dunia, padahal masyarakat dunia sangat membutuhkan sumberdaya-sumberdaya yang berasal dari laut. Bahkan seorang futurist di film tersebut memprediksikan bahwa  pada tahun 2040 sudah tidak ada ikan lagi di laut jika keadaan sekarang tak kunjung membaik, cukup beralasan memang namun apakah begitu ekstrim manusia memperlakukan alam? Beragam upaya dilakukan oleh orang yang peduli terhadap keberlanjutan dan kelestarian alam ini, misalnya upaya budidaya ikan yang bernilai ekonomis (udang, tuna, rumput laut, kerapu, dll), perlindungan terhadap ikan spesies langka (hiu, paus, ikan hias, dll), konservasi ekosistem terumbu karang dan mangrove, dan upaya-upaya lain yang mendukung upaya pelestarian alam.

Bagaimana dengan industri penangkapan ikan khususnya di Indonesia, yang pada dasarnya menyerap banyak tenaga kerja? Perlukah ada pengaturan pengusahaan yang lebih ketat sehingga bisa tertib (well managed fisheries), haruskah ditingkatkan Marine Protected Areas baik dari statusnya maupun luas wilayahnya, cocokkah prinsip closures (season and areas) di Indonesia, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepada upaya perbaikan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang berasal dari bidang perikanan dan kelautan.
 
Akhirnya, Kekhawatiran ini saya coba tuangkan dalam sebuah catatan sederhana yang menurut saya masih jauh dari kesan komprehensif. Sehingga bersama ini saya mohon masukan, komentar dan perbaikan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan masukan untuk sempurnanya masukan ini.
 
(Penulis merupakan mahasiswa The Graduate School of Fisheries Science, Pukyong National University, South Korea)
Last Updated on Monday, 05 October 2009 15:07
 

Comments  

 
+1 # Kukuh Kumara 2009-11-26 23:24
Tulisan yg menarik dan layak dicermati, karena mau tidak mau harus ada upaya peralihan dari Perikanan Tangkap ke perikanan budidaya. Disisi lain masih sering dilontarkannya bahwa potensi perikanan Indonesia masih belum sepenuhnya di usahakan, apakah memang demikian adanya? Namun dari tulisan diatas nampak ada usaha untuk mengurangi penangkapan ikan yg berlebihan. Ada pula informasi bahwa Jepang sedang mengupayakan pengurangan armada penangkapan ikan tuna sebesar kurang lebih 20% akibatnya ada 1000 orang yang akan kehilangan pekerjaan. Tindakan ini diambil sebagai tindak lanjut dari keputusan Komisi Perikanan Pasifik Tengah dan Barat beberapa waktu yang lalu yg berniat mengurangi jumlah tangkapan ikan tuna mata besar (Big Eye), Tuna Sirip Kuning (Yellow Fin Tuna) sebesar 30% selama 3 tahun mendatang, karena adanya indikasi penangkapan yg berlebih. Bagaimana posisi Indonesia menanggapi perkembangan diatas?
 
 
0 # Afriana Kusdinar 2010-02-05 18:20
Keliatannya indonesia sibuk dengan perang thd IUU fishing, konflik wilayah kedaulatan dgn tetangga, pembenahan internal yang tak kunjung selesai, serta penggunaan anggaran yg jd sorotan publik belakangan ini misalnya pembelian Catamaran Lagoon-500 dari Prancis. Data terbaru yg akuntable dan realtime ttg kondisi SDI di seluruh perairan Indonesia dan kondisi makro perikanan dpt menjadi perangkat kebijakan untuk mengambil langkah2 management sumber daya perikanan. Jika terjadi over-exploited dan dikuranginya armada penangkapan, maka pemerintah harus menyediakan lapangan kerja baru sbg substitusi nya. dukungan perbankan dalam pendanaan menjadi sangat penting shg dibutuhkan institusi keuangan yg concern dibidang perikanan. bagaimana kondisi keuangan Indonesia?
 

Online

None

Statistik Anggota